Analisis Spasial dan Regional

How To Order This Book:
Hubungi UPP STIM YKPN
Jl. Langensari 45 Balapan, Yogyakarta 55222
Telp. (0274) 586115, 515657 Fax. (0274) 586115 PO. Box 6441
APA KOMENTAR MEREKA TENTANG BUKU INI?
“Studi ini menganalisis trend aglomerasi dan kluster dalam sektor industri manufaktur Indonesia. Penulis menggunakan sejumlah teknik yang berlainan dalam analisis dan mampu menarik sejumlah kesimpulan yang menarik. Terutama ia menemukan bahwa kebijakan liberalisasi perdagangan yang diterapkan oleh Indonesia sejak 1985 telah berdampak pada semakin menguatnya konsentrasi industri secara spasial di daerah-daerah perkotaan utama di Jawa. Ia juga menyimpulkan bahwa konsentrasi spasial industri besar dan menengah dapat diasosiasikan dengan konsentrasi perkotaan di Jawa. Sementara industri kecil dan rumah tangga memiliki pola spasial yang berbeda dengan industri menengah dan besar. Penemuan-penemuan studi ini memiliki implikasi yang penting bagi arah kebijakan publik Indonesia di masa mendatang”.
Associate Prof. John Malcolm Dowling, Department of Economics, University of Melbourne, Australia, dan mantan ekonom senior di Asian Development Bank, Manila
“Ini merupakan suatu tesis yang mencakup konsentrasi industri dalam banyak aspek. Tesis ini informatif dan kompeten, meskipun tidak terlalu inovatif”Prof. Vernon Henderson, Department of Economics, Brown University, USA “Kekuatan studi ini pada dasarnya adalah tujuannya yang ambisius untuk menganalisis trend aglomerasi dan kluster dari sektor manufaktur Indonesia kendati menghadapi data yang terbatas dan tidak konsisten”.Prof. Iwan Jaya Aziz, CRP & School of Management, Cornell University, USA “Kelebihan tesis ini menggunakan berbagai metodologi dan membandingkan serta menguji berbagai mazab pemikiran”.
Prof. John Freebairn, Head of Department of Economics, University of Melbourne, Australia
ISI BUKU
Selama kurang lebih satu abad, para ekonom, pakar geografi, perencana kota, pakar bisnis, ahli regional dan ilmuwan sosial lainnya mencoba menjelaskan mengapa dan di mana aktivitas ekonomi berlokasi (misal: Krugman, 1991; Kuncoro, 2000a; O’Sullivan, 1996; Porter, 1998). Distribusi aktivitas ekonomi yang timpang secara geografis maupun regional telah menjadi fokus perhatian utama, dan karena itu mendorong banyak penelitian dalam topik ini. Berbagai studi empiris telah dilakukan di USA, Eropa, Jepang, Amerika Latin, dan di berbagai belahan dunia. Namun, studi yang komprehensif mengenai konsentrasi ekonomi secara geografis (spasial) di Indonesia boleh dikata masih amat langka.
Buku ini mencoba memberikan sumbangsih pemikiran teoritik maupun catatan empiris mengenai konsentrasi spasial dalam pembangunan industri di Indonesia. Buku ini pada dasarnya berasal dari hasil penelitian penulis selama lebih kurang 3 tahun. Memang embrio utama berasal dari disertasi yang disusun untuk memperoleh derajat doktor (PhD) dalam bidang manajemen di Faculty of Economics and Commerce, University of Melbourne, Australia, yang dikenal sebagai salah satu universitas terbaik di kawasan Asia. Di bawah supervisor Malcolm J. Dowling (ahli ekonomi Asia dan metode kuantitatif) dan Howard W. Dick (ahli ekonomi regional dan sejarah ekonomi Indonesia), penulis mencoba mengkawinkan pendekatan deskriptif-analitik dan pendekatan kuantitatif-empirik dalam mengkupas fenomena konsentrasi geografis di Indonesia. Kelebihan analisis adalah digunakannya perspektif industri, spasial (regional), dan waktu secara terpadu.
Buku ini membahas berbagai aspek aglomerasi dan kluster dengan menganalisis transformasi industri Indonesia sejak pertengahan dasawarsa 1970-an. Bab 2 menelusur berbagai teori dan studi terdahulu yang mencoba menganalisis maupun menjelaskan mengapa dan di mana konsentrasi spasial terjadi. Ditemukan bahwa aglomerasi industri (industrial agglomeration) dapat dibedakan sebagai fenomena yang jauh lebih kompleks, tetapi kurang umum, dibanding kluster industri (industrial clustering). Interaksi antara industrialisasi dan urbanisasi secara rinci dikupas.
Bab 3 mencoba menjawab pertanyaan “di mana” (where) lokasi dan konsentrasi industri di Indonesia berada. Dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis dan data industri hingga tingkat kabupaten dan kecamatan, lokasi industri yang utama di Indonesia dapat diidentifikasi secara visual dan statistik. Selama dua dasawarsa terakhir, diketemukan bahwa pembangunan industri Indonesia amat terkonsentrasi di pulau Jawa dan Sumatra, dengan pangsa sekitar 90-95%. Di pulau Jawa pun, ternyata penyebaran industri secara geografis amat timpang, serta mengikuti pola “dua kutub” (bipolar) dan sejalan dengan perkembangan daerah metropolitan.
Menariknya, Bab 4, dengan data dan analisis runtut waktu, menunjukkan bahwa ketimpangan industri secara geografis di Indonesia membentuk kurva seperti huruf “U”. Ini menunjukkan bahwa berbeda dengan kecenderungan di Amerika dan Eropa yang mengalami penurunan konsentrasi aktivitas industri, Indonesia justru mengalami peningkatan konsentrasi industri secara spasial justru setelah era deregulasi dan debirokratisasi diluncurkan sejak pertengahan 1980-an. Bab ini tidak saja menjawab pertanyaan “bagaimana” trend konsentrasi spasial dalam dimensi waktu, namun juga berupaya menjawab “mengapa” justru rangkaian kebijakan deregulasi dan debirokratisasi justru semakin memperkuat meningkatnya konsentrasi industri secara spasial.
Karena Jawa amat dominan peranannya dalam industri manufaktur, Bab 5-6 menitikberatkan analisis pada industri di pulau yang paling padat penduduk dan padat industri di Indonesia. Bab 5 secara khusus menguji teori mana-apakah teori Neoklasik (NCT), teori Perdagangan Baru (NTT), ataukah teori Geografi Ekonomi Baru (NEG)- yang paling tepat menjelaskan fenomena konsentrasi geografis di Jawa. Dengan data pooling dan analisis ekometrika, hasil analisis membuktikan bahwa industri manufaktur di Jawa lebih tertarik berlokasi di kawasan yang padat penduduk untuk menikmati localization economies dan urbanization economies. Yang pertama diasosiasikan dengan skala suatu industri, sedang yang kedua mencerminkan ukuran pasar suatu kabupaten. Ditemukan juga bahwa terdapat sinergi antara ukuran pasar dengan kekuatan aglomerasi. Tarik menarik antar kekuatan aglomerasi diperkuat dengan struktur pasar yang berciri pasar persaingan tidak sempurna. Struktur pasar semcam ini terbukti menghalangi persaingan sehingga perusahaan cenderung terkonsentrasi secara geografis.
Bab 6 menganalisis keterkaitan antarindustri dalam suatu aglomerasi perkotaan. Sebagai studi kasus digunakan analisis Input-Output Regional untuk kawasan Jabotabek, yang dibandingkan dengan Singapura. Ditemukan bahwa skala ekonomis secara eksternal (external economies of scale) pada suatu perusahaan muncul akibat kedekatan industri yang berkaitan secara spasial, maupun transaksi yang dilakukan oleh perusahaan di dalam dan di luar sektor industri manufaktur, terutama dengan sektor jasa. Eksternalitas akibat aglomerasi, baik yang didorong oleh pemasok maupun pelanggan, telah diperkuat oleh keterkaitan antarsektor terutama antara sektor industri manufaktur dan jasa. Uniknya, dampak aglomerasi ternyata lebih kuat di Jabotabek daripada di Singapura.
Bab 7 menitikberatkan analisis pada pola dan ciri kluster industri kecil dan kerajinan (IKK) di Indonesia pada umumnya, dan di Jawa pada khususnya. Berbeda dengan studi mengenai IKK sebelumnya yang mengandalkan studi kasus pada suatu daerah tertentu, studi ini menggunakan data Sensus Ekonomi 1996, yang mencakup semua kabupaten di pulau Jawa dan Indonesia. Fenomena mencolok pola spasial IKK tersebar relatif merata di seluruh pulau Jawa, kendati kluster-kluster utamanya tetap dapat diidentifikasi. Ini amat kontras dengan pola spasial industri skala menengah dan besar yang cenderung mengikuti pola perkembangan kota metropolitan. Sebagian besar kluster IKK berada di perdesaan, kendati sentra IKK diketemukan juga di kota kecil maupun metropolitan. Dengan alat analisis diskriminan, kita dapat mengidentifikasi faktor-faktor utama yang menjelaskan mengapa IKK cenderung mengelompok di sentra-sentra industri. Untuk kasus Jawa, terbukti bahwa teori industrial district lebih relevan dibanding teori New Economic Geography.
Bab 8 menyajikan ringkasan penemuan utama studi ini, kesimpulan, dan implikasi kebijakan.
DAFTAR ISI
Bab 1 Pendahuluan
• Latar Belakang Masalah
• Tujuan
• Metode Penelitian
• Sistematika Penulisan
Bab 2 Survei Literatur: Teori dan Studi Empiris Mengenai Aglomerasi dan Kluster
• Pendahuluan
• Anglomerasi
• Evolusi Kluster
• Kesimpulan
Bab 3 Analisis Spasial Industri Manufaktur Besar dan Menengah di Indonesia: DI Manakah Lokasi Aglomerasi dan Kluster?
• Pendahuluan
• Metode Analisis
• Kluster Industri Secara Regional di Indonesia
• Keanekaragaman Industri
• Spesialisasi Daerah
• Kesimpulan
Bab 4 Tren Konsentrasi Spasial, Selama Periode 1976-1995: Apakah Kebijakan Deregulasi Berpengaruh?
• Pendahuluan
• Konsentrasi Spasial Antar Pualu dan Dalam Pulau di Indonesia
• Konsentrasi Spasial di Jawa
• Deregulasi Perdagangan dan Konsentrasi Spasial
• Kesimpulan
Bab 5 Dinamika dan Kekuatan dan Aglomerasi di Jawa: Analisis Ekonometrika dengan Data Panel
• Pendahuluan
• Kerangka Teoritis
• Variabel dan Hipotesis
• Spesifikasi Model dan Data
• Hasil Empiris
• Kesimpulan
Bab 6 Eksternalitas Aglomerasi Dalam Daerah Metropolitan: Analisis Input-Output dengan Studi Komperatif Jabotabek dan Singapura
• Pendahuluan
• Struktur Dasar Analisis I-O
• Eksternalitas Aglomerasi
• Kaitan Antar Daerah
• Kesimpulan
Bab 7 Pola Kluster Industri Manufaktur: Lokasi dan Formasi Industrial District
• Pendahuluan
• Pola Kluster IBM dan IKRT
• Perbandingan Antar Kluster
• Adakah Industrial District di Jawa?
• Mengapa Terjadi Kluster IKRT?
• Kesimpulan
Bab 8 Rangkuman Hasil Studi, Kesimpulan, dan Implikasi Kebijakan
• Pendahuluan
• Rangkuman Hasil Studi
• Kesimpulan

