Peluang Pasar Timur Tengah
Kendati nilai perdagangan Indonesia-UEA baru mencapai US$ 1,5 miliar, menarik untuk dicatat pertumbuhan mencolok 10 besar komoditas ekspor Indonesia ke UEA, terutama mobil (719%), elektronik (139%), dan besi baja (105%).
Dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita tercatat US$ 42.275, daya beli UEA cukup tinggi dan menawarkan pasar properti yang kelas atas. Bayangkan saja, UEA memiliki satu-satunya hotel bintang ‘tujuh’ di dunia, Burj Al Arab di Dubai, yang sewa kamarnya mencapai US$ 25 ribu per malam.
Dubai tidak hanya menawarkan hotel mewah, namun juga pusat keuangan internasional, pusat perbelanjaan, dan pulau buatan Palm Jumeirah. Belum lagi Dubai Land yang baru dibangun yang konon dua kali dari Disney World dan akan menjadi theme park terbesar di dunia. Boleh dikatan, Dubai telah menjadi Hongkong of the Middle East. Abu Dhabi, ibukota UEA, tak kalah menarik, karena setidaknya berambisi membangun kota bebas karbon senilai US$ 22 milyar yang disebut Masdar.
Melonjaknya harga minyak hingga US$ 147 per barel pada 11 Juli 2008 membawa berkah petrodolar bagi negara-negara di kawasan Teluk. Tidak mengherankan negara-negara ini mampu memiliki dana sovereign wealth funds (SWF) dalam jumlah yang fantastik. Dari tujuh SWF terbesar di dunia, dua di antaranya terdapat di kawasan Teluk, yakni Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dengan dana kelolaan SWF US$ 875 miliar dan Kuwait Investment Authority dengan dana SWF US$ 250 miliar. Rekor SWF tersebut jauh melebihi China Investment Corporation US$ 200 miliar, Temasek Holdings US$ 159,2 miliar di Singapura, dan Stabilisasi Russian Federation US$ 158 miliar. Bahkan ADIA telah menyuntikkan dana segar US$ 7,5 miliar kepada Citigroup.
Dengan dana petrodollar, negara UEA dan kawasan Teluk lain membutuhkan banyak tenaga kerja. Ada sekitar 80 ribu tenaga kerja Indonesia (TKI) bekerja di UEA. Memang sekitar 80% TKI bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau buruh kasar. Sedangkan sisanya mengais rejeki sebagai profesional di perusahaan tambang, petrokimia, dan galangan kapal. Sayangnya, maskapai penerbangan nasional Indonesia belum ada satupun yang melayani jalur Jakarta-Dubai/Abu Dhabi.
Sementara itu, maskapai penerbangan dari UAE, Emirates Air dan Etihad, setiap hari melayani Jakarta-Dubai/Abu Dhabi, dengan load factor sekitar 90%. Konon dua maskapai UAE akan melayani penerbangan langsung ke kota-kota lain di Tanah Air, menyusul tingginya permintaan haji dan tenaga kerja.
Tidak berlebihan bila Salah al Shamsi, Presiden Kadin UAE dan salah satu dari 50 tokoh paling berpengaruh di negara Teluk, mengatakan Indonesia dan UAE memerlukan extra effort agar hubungan dagang dan investasi kedua negara semakin meningkat di masa mendatang. Potensi dagang dan investasi dengan negara-negara Teluk sudah sepantasnya digarap lebih serius oleh instansi pemerintah terkait, antara lain Departemen Perdagangan, Departemen Luar Negeri, Departmen Perindustrian, dan Badan Koordinasi Penanam Modal (BKPM), dan Kadin. Nah, siapa mau memulai?

